BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI, SELAMAT MEMBACA SEMOGA BERMANFAAT

Ronaldo Devinci Talesa: Batik Bukan Sekadar Busana, tetapi Warisan Budaya yang Harus Terus Dihidupkan

LAPAS II A PADANG | Semangat memperingati Batik Nasional menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia di lingkungan pemasyarakatan. Kalapas Kelas IIA Padang, Ronaldo Devinci Talesa, A.Md.IP., S.H., M.H., turut membawa pesan kebangsaan tersebut melalui momentum mengenakan batik dan mengajak seluruh jajaran memaknai batik sebagai identitas budaya Indonesia, Kamis, 2 Oktober 2026.

Bagi Ronaldo, batik tidak berhenti pada persoalan pakaian yang dikenakan dalam aktivitas kedinasan. Di balik motif, warna dan proses pembuatannya terdapat sejarah panjang kebudayaan Indonesia yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, peringatan Batik Nasional dapat menjadi ruang sederhana untuk kembali mengingat pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

Di lingkungan Lapas Kelas IIA Padang atau yang dikenal sebagai Lapas Muaro, semangat tersebut berjalan berdampingan dengan tugas utama pemasyarakatan. Pembinaan tidak hanya menyangkut keamanan dan ketertiban, tetapi juga bagaimana warga binaan memperoleh ruang untuk membangun kembali kepribadian, kedisiplinan, keterampilan dan rasa percaya diri.

Ronaldo Devinci Talesa selama menjalankan tugasnya di Lapas Kelas IIA Padang memang mendorong penguatan pembinaan warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif. Pada sejumlah program sebelumnya, Lapas Muaro mengembangkan kegiatan kemandirian seperti peternakan, produksi makanan, keterampilan dan program pendidikan bagi warga binaan.

Momentum Batik Nasional kemudian memberikan dimensi lain dalam proses pembinaan tersebut. Budaya dapat menjadi sarana membangun kesadaran bahwa setiap orang tetap memiliki hubungan dengan masyarakat dan bangsa, termasuk mereka yang sedang menjalani proses pembinaan di balik tembok pemasyarakatan.

“Batik adalah bagian dari identitas dan kekayaan budaya Indonesia. Semangatnya adalah bagaimana kita terus menghargai, menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa,” demikian pesan yang sejalan dengan momentum yang dibawa Kalapas Ronaldo dalam peringatan Batik Nasional.

Pesan itu juga memiliki makna yang lebih luas bagi jajaran pemasyarakatan. Ketika batik dikenakan bersama dalam lingkungan kerja, yang ditampilkan bukan sekadar keseragaman busana, melainkan penghormatan terhadap budaya nasional sekaligus pengingat bahwa tugas pelayanan publik harus tetap berakar pada nilai kebangsaan.

Di sisi lain, pembinaan warga binaan membutuhkan pendekatan yang menyentuh aspek manusiawi. Pendidikan, keterampilan dan aktivitas produktif menjadi bagian penting agar warga binaan memiliki bekal ketika kelak kembali ke tengah masyarakat. Lapas Padang sendiri pada 2026 tercatat melibatkan 101 warga binaan dalam program penyetaraan pendidikan, sementara pembinaan kemandirian juga dikembangkan melalui berbagai keterampilan.

Ronaldo bersama jajaran Lapas Kelas IIA Padang juga terus membangun sinergi dengan berbagai pihak untuk memperluas kesempatan pembinaan. Salah satunya melalui dukungan dunia usaha dan instansi terkait dalam kegiatan peternakan yang menghadirkan 200 DOC ayam petelur serta pakan untuk mendukung program kemandirian warga binaan.

Pada akhirnya, peringatan Batik Nasional di lingkungan Lapas Muaro menjadi pengingat bahwa pemasyarakatan memiliki ruang yang luas untuk menghadirkan nilai-nilai kebangsaan. Dari lingkungan yang dikelilingi tembok dan pengamanan ketat, tetap dapat tumbuh pesan tentang budaya, pendidikan, keterampilan, kedisiplinan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Di bawah kepemimpinan Ronaldo Devinci Talesa, semangat itu menjadi bagian dari ikhtiar menjadikan pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi ruang pembinaan menuju kembalinya manusia ke tengah masyarakat.

Katim RMO Group | Wyndoee

Posting Komentar

0 Komentar