Momentum emas ini didasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Nomor 961/B/O/2026. Kehadiran FK UBH menjadi jawaban strategis atas kebutuhan tenaga medis berkualitas di Indonesia, dengan keunggulan spesifik pada visi *Neurosains* yang diperkuat oleh internalisasi nilai-nilai luhur Kebunghattaan.
Acara monumental ini ditandai dengan prosesi sakral pemasangan almamater dan kokarde. *Redyatacahyani,* yang akrab disapa *Tata,* tampil sebagai perwakilan mahasiswa perdana yang menyita perhatian. Mahasiswi cerdas ini terpilih menjadi simbol dari dimulainya dedikasi generasi muda yang siap digembleng menjadi dokter masa depan yang unggul secara akademik dan berintegritas tinggi. Kehadiran Tata mewakili potret mahasiswa baru FK UBH yang kompetitif, berwawasan luas, dan siap membawa nama institusi ke pentas nasional.
Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Bung Hatta, *Prof. Ganefri, Ph.D.,* secara resmi menetapkan tanggal 16 Oktober sebagai hari lahir FK UBH. Ia menegaskan komitmen yayasan untuk membangun ekosistem pendidikan kesehatan paripurna, termasuk persiapan rumah sakit pendidikan di masa depan.
Apresiasi tinggi turut mengalir dari Kepala LLDIKTI Wilayah X, *Dr. Afdalisma, S.H., M.Pd.,* yang menegaskan posisi UBH sebagai perguruan tinggi terbaik di wilayahnya dengan dosen dan prodi unggul terbanyak. Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, *dr. Aklima, MPH,* menyambut optimis kehadiran FK UBH sebagai katalisator penguatan pelayanan kesehatan berbasis mutu dan pengabdian kemanusiaan.
Rektor Universitas Bung Hatta, *Prof. Dr. Diana Kartika,* menutup dengan penegasan bahwa langkah besar ini merupakan wujud nyata kontribusi universitas terhadap pembangunan berkelanjutan global (SDGs), khususnya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas demi kehidupan yang sehat dan sejahtera. Dengan dimulainya perkuliahan perdana ini, Universitas Bung Hatta semakin mengukuhkan posisinya sebagai kiblat akademik yang melahirkan generasi dokter cerdas, humanis, dan berwibawa.
TIM

0 Komentar